Kerjasama WWF Jerman dengan Deutsche Post untuk Sebangau

WWF mengajak pihak industri ambil bagian dalam politik lingkungan global. Untuk proyek penghijauan hutan di Sebangau misalnya, WWF bekerjasama dengan perusahaan pos dan logistik Jerman Deutsche Post (DHL).

Setelah Uni Eropa, Amerika Serikat dan Cina, saat ini Indonesia berada di peringkat ke-empat produsen emisi gas rumah kaca dunia. Menurut Markus Raday dari WWF

“Jika kita lihat emisi dari industri di Indonesia, orang harus membandingkannya dengan Jerman atau Cina. Penyebabnya kerusakan lahan hutan di Indonesia sangat besar, terutama akibat kebakaran. Dalam pemberitaan orang mendengar hampir setiap tahun terjadi kebakaran hutan di Indonesia. Misalnya kebakaran besar hutan di Kalimantan. Inilah yang menyebabkan dilepaskannya karbondioksida dalam jumlah amat besar ke udara.”

 

Karena itu secara umum hutan-hutan berfungsi sangat penting bagi perlindungan iklim. Dalam pohon-pohon, tanah juga dalam akar tersimpan unsur karbon yang luar biasa besarnya. Jika struktur unsur karbon ini terganggu misalnya akibat kebakaran, maka hutan akan menjadi penghasil emisi gas rumah kaca, yakni karbondioksida. Upaya untuk mengurangi emisi CO 2 ini antara lain dilakukan dengan sebuah proyek di kawasan Sebangau, di Kalimantan Tengah. Saat ini Sebangau sudah ditetapkan menjadi taman nasional dengan luas hampir 570 ribu hektar. Namun menurut Raday justru di situlah letak masalahnya. Hal yang banyak terjadi pada taman-taman nasional di Indonesia adalah pengawasannya kurang terjamin. Oleh sebab itu WWF melalui WWF Indonesia menempatkan tim di sana untuk menjaga agar upaya melestarikan kawasan taman nasional itu benar-benar dilaksanakan.

 

Kerjasama antara WWF Jerman dan Deutsche Post (DHL) memusatkan kegiatannya di hutan taman nasional Sebangau. Menurut Raday

“Hutan di Sebangau adalah hutan tropis yang menyimpan unsur karbon dalam jumlah sangat besar, karena pohon-pohonnya tumbuh di atas lapisan gambut yang tebalnya beberapa meter. Kandungan CO 2 lapisan gambut sangat besar, sama seperti batu bara. Jika hutan-hutan itu terbakar atau lapisan gambut itu dikeringkan, maka gambut itu akan terurai dan melepaskan CO 2 ke udara. Jumlahnya ratusan ton bahkan ribuan ton per hektar. Yakni untuk setiap lahan seluas 100 kali 100 meter.”

 

Untuk mengembalikan kondisi alami Taman Nasional Sebangau yang luasnya hampir 570 ribu hektar ini  diperlukan bantuan dana yang besar pula. Oleh sebab itu WWF mengajak pihak industri untuk ikut andil di dalamnya, dan mendapat dukungan dari Deutsche Post (DHL). Tapi apa yang menyebabkan perusahaan logistik yang berkantor pusat di sebelah Deutsche Welle, di Bonn ini bersedia ikut andil untuk proyek yang berada di tengah Kalimantan tersebut.

“Sebagai perusahaan logistik dan pos, Deutsche Post yang secara global dikenal sebagai DHL memiliki tanggung jawab untuk mengurangi dampak negatif aktivitas kami terhadap lingkungan. Kami juga ingin menjadi bagian dari pemecahan masalah. Ya tentu saja kami pertama-tama memiliki kewajiban mengkaji apa yang dapat kami perbaiki secara intern, dengan mengembangkan teknik alternatif, kendaraan alternatif atau proses yang lebih baik dalam penggunaan energi. Tapi sebagai perusahaan logistik tentu saja sangat sulit melakukan semua hal yang tidak mengganggu lingkungan. Oleh sebab itu kami juga mencari upaya mendukung perlindungan iklim secara global.”

 

Secara rinci Markus Raday dari WWF menjelaskan proyek di Sebangau yang terdiri dari dua bagian ini

“Satu bagian adalah pengembangan standar internasional yang diakui. Suatu standar dimana orang dapat mengukur berapa volume karbondioksida yang dapat direduksi bila orang melindungi hutan. Dalam diskusi internasional pada konferensi iklim dunia PBB di Bali tahun lalu, semua tertarik dengan tema ini. Artinya negara-negara industri juga berkepentingan bahwa hutan-hutan di negara berkembang atau di ambang industri tetap lestari agar hutan-hutan itu sebagai penyimpan unsur karbon tetap stabil dalam jangka panjang. Bagaimana orang dapat mengukur apakah suatu negara atau kawasan mampu melindungi hutannya dibanding dengan pemusnahan hutan yang selama ini terjadi, akan menjadi tugas standar tersebut. Itu dari segi teknisnya, tapi dari pihak WWF juga berkepentingan bahwa dari standar tersebut juga dapat diketahui seberapa besar keragaman hayati yang masih dapat diselamatkan di dalam hutan. Itulah bagian proyek yang kami lakukan bersama-sama Deutsche Post.”

 

Untuk bagian proyek lainnya yang bergerak di bidang lokal dijelaskan Markus Raday, di Sebangau WWF ingin melakukan rehabilitasi untuk lahan yang cukup besar di kawasan yang sebagian sudah rusak tapi sebagian masih memiliki lapisan gambut yang utuh serta hutan-hutannya, untuk dikembalikan ke keadaannya yang alami. Tindakan yang bisa dilakukan untuk itu adalah saluran pengeringan air yang dibangun 10  tahun lalu kembali ditutup sehingga kawasan gambut dapat terhubung kembali sehingga gambut ini tetap utuh, demikian juga fungsinya sebagai penyimpan unsur karbon. Dan perlahan-lahan dikembalikan ke kondisi vegetasi asal. Karena hal ini meliputi kawasan cukup besar, WWF akan mengkaji bagaimana pelaksanaannya secara teknis.

 

Perusahaan pos dan logistik yang juga memiliki bagian manajemen lingkungan ini telah lama menjalin kemitraan dengan WWF Jerman. Kerja sama dalam bentuk proyek di regenerasi hutan di Sebangau akan berlangsung dua tahun, yang untuk jangka panjang diharapkan menyumbang andil dalam pelestarian lingkungan. Walaupun baru dimulai namun Ian Midgley dari Deutsche Post tetap realistis

Bersama WWF deutsche Post Jerman ingin bekerja sama untuk mengembangkan suatu standar yang diakui secara internasional dan diberi sertifikat oleh pakar eksternal. Dimana manfaat tidak hanya di bidang perlindungan iklim dalam mengurangi CO 2 tapi juga dalam hal keragaman hayati dan sosial ekonomi. Proyek ini juga diharapkan membawa keuntungan bagi penduduk setempat. Itulah yang menarik minat Deutsche Post Jerman ketika WWF mempresentasikan proyek ini. Karena perusahaan ini memiliki politik berkesinambungan yang tidak hanya di bidang lingkungan tapi juga meliputi aspek sosial.”

 

Meskipun proyek kerja sama dengan Deutsche Post atau DHL penetapan standar internasional disepakati untuk kurun dua tahun. Namun WWF Jerman dan Indonesia akan mengamati secara seksama bagaimana reaksi hutan-hutan tersebut terhadap upaya pengembalian kondisi alaminya. Karena itu diperlukan proyek jangka panjang yang diperkirakan berlanjut hingga 10 tahun ke depan.

Dikutip dari DW-WORLD.DE

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s